RANIA

Perjalanan Rania

Cerpen by. Lisna Fitrianti

Hiruk piluk keramaian kota yang semakin padat. Kendaraan yang kian memadat, mengacaukan kesegaran udara di bumi pertiwi. Pagi yang cerah yang seharusnya segar akan udara pagi, sudah tersapu oleh asap kendaraan yang tak kenal lelah. Hampir setiap detik jalanan yang panjang tak pernah sepi oleh laju kendaraan pribadi ataupun umum. Suatu keadaan yang salah, kondisi bumi yang semakin memanas, diperparah dengan populasi anak jaman sekarang yang begitu bangganya dan bahagianya hidup dijalanan. Berpakaikan baju serba hitam yang katanya suatu kebanggaan dan ciri khas kelompoknya membuat keramaian kota semakin kacau. Persimpangan jalan yang menjadi tempat favorit para gengster berkumpul dan mencari sesuap nasi ini, menjadikan aktivitas kesehariannya dengan tepukan tangan serta alat musik alakadar untuk mengamen dilampu merah tiba. Begitu menyedihkan perkembangan anak jaman now yang katanya ngehits ini.

Suatu kala emosi mencuat didalam pikir Rania. Rania yang berkendara motor revo hitam berniat untuk menghilangkan kepenatan dalam dirinya, tanpa disadar terhenti tak sengaja dalam kerumunan anak jalanan yang hits itu.

Tiba-tiba terdengar sapaan dari arah selatan. Seorang pria bergaya berantakan menghampirinya “Hey? Ada yang bisa saya bantu?” Ryan menyapa dengan ramah. Dengan berpakaikan serba hitam perlahan mendekati parkir motor tepat didepan motor Rania terhenti. Perasaan deg-deggan sekaligus campur aduk dengan rasa takut membuat Rania berkeringat dingin. “ini sepertinya motor saya mogok?” jawab Rania dengan takut. “oh mogok ya. Kalau begitu ayo bertepi disana dulu biar nanti aku benerin”, dengan riang Ryan menawarkan bantuan.

Sepuluh menit telah berlalu, sistem kerja otak Rania pun tak henti-hentinya memikirkan akan kekhawatirannya berada dikerumunan orang asing yang bergaya aneh itu. Menurutnya. Berbagai informasi yang telah terekam didalam memori otak Rania berputar dengan cepat akan hal-hal negatif yang semakin menghantui Rania menit itu. Meskipun khayalan tentang anak jalanan yang nakal serta suka bergaul dengan bebas itu belum tampak oleh kacamata Rania selama bercakap dengan Ryan. Rasa takut itu tetap saja terasa dalam diri Rania. Seiring dengan berjalannya waktu, rasa takut itu hilang perlahan-lahan. Rania pun mulai akrab dengan segerombolan anak jalanan tersebut.

Seminggu telah berlalu, melihat kebaikan Ryan saat itu, membuat Rania mulai suka datang dan berkunjung menjumpai Ryan yang dikenalinya sejak kejadian motor mogoknya. Tampak seperti terkena racun aura negatif wanita muslimah berjilbab merah lebar tiba-tiba begitu akrab tanpa ragu sedikitpun ikut berkumpul dengan segerombolan anak nakal. Tapi, tidak bagi diri Rania yang sumpel dan bergaya anggun. Keteguhan hati Rania yang tak tergoyahkan sedikitpun akan pakaian yang ia genakan. Pakaian yang menutupi auratnya itu, tetap ia genakan meskipun telah bergabung dengan anak jalanan sepekan ini.

 Hari cerah menyapa dengan hangat. Persimpangan jalan mulai ramai akan kawan baru Rania yang siap sigap menghibur pengendara yang berhenti menunggu lampu hijau tiba. Ryan yang sedikit memiliki tampang rupawan itu, juga tak mau kalah ikut berkumpul dengan kawan solidnya.

Rania si wanita muslimah itu, lambat laun menaruh rasa terhadap sesosok Ryan yang tampan, hitam manis, berkumis tipis. Benih rasa yang ada dalam benak Rania menjadikan semangat terhadap dirinya untuk mengetahui lebih dalam tentang kehidupan Ryan dalam kesehariannya. Motivasi Rania pun tak hanya ingin mengetahui lebih dalam, melainkan Rania wanita munggil berkulit putih itu berharap besar dapat merubah kehidupannya untuk mengenalkan tentang Islam lebih dalam terhadap pria berkumis tipis tersebut.

Hari mulai petang, geng Ryan beserta kawannya pun mulai menepi dari jalanan yang penuh asap kendaraan. Gubuk kecil yang terbangun tanpa ijin tepat dibawah kolong jembatan kota metropolitan itu, menjadi tempat inspirasi sekaligus tempat berkumpul mempererat solidaritas gengs bentukan Ryan dan kawannya hingga larut malam tiba.

Keesokkan harinya Rania dengan hati riang menemui Ryan yang sedang asyiknya berbincang dengan kawannya. Dengan wajah memerah Rania memberikan sedikit kode untuk dapat berbicara dengan Ryan secara empat mata. Ryanpun mendekati Rania yang tampak gagu dalam berbicara.

“Hey ada apa dengan dirimu? Kenapa kau begitu gugup didepanku” Ryan mendekati Rania dengan perlahan. “Anu aa anu… Ryan aku sebenarnya ingin lebih mengenal dirimu, kenapa kamu tidak bersama keluargamu? Bagaimana dengan orang tuamu?” dengan malu Rania terlanjur keceplosan akan apa yang mengganggu dalam pikiran dan hatinya. Bukan suatu jawaban yang diinginkan Rania yang keluar dari mulut Ryan. Ryan mendengar ucapan Rania tersebut membuatnya tertawa terpingkal-pingkal seakan tak percaya gadis yang ia kenal selama ini ternyata ingin tahu lebih dalam terhadapnya. “Hahaha… kenapa kau bertanya seperti itu Rania? Apa masih kurang paham kamu dengan melihat keseharianku dijalanan ini?” ucap Ryan dengan tak serius. Rania menunduk merasa malu dengan Ryan yang tak menanggapi ucapannya dengan serius.

Melihat wajah Rania yang menunduk tak berani menatap matanya tersebut membuat Ryan terdiam seketika. Ryan Firlana nama lengkapnya, anak yang belum lama ikut gabung dalam kelompok geng jalanan tersebut, tiba-tiba terdiam teringat kedua orang tuanya yang tak memiliki hubungan harmonis. Ryan pun bercerita dengan Rania.

Waktu itu kejenuhan benar-benar memuncak dalam diri Ryan. Kegundahan suasana hati yang kacau sekaligus ketidakharmonisan dalam kondisi rumahnya, menjadikan Ryan keluar mencari kebebasan. Melayangnya piring, gelas, serta perabotan rumah tangga seakan sudah menjadi irama musik yang khas didalam rumah tempat Ryan tinggal. Bagaimana mungkin seorang anak berusiakan belasan tahun akan betah serta nyaman jikalau diposisikan dalam keadaan demikian. Terjun dan bergabung dengan anak jalanan menjadi jalan pilihan yang tak disengaja oleh Ryan kala itu. Kesolidan dalam perkawanan yang terjalin dalam komunitas anak jalanan itu menjadikan Ryan merasa bebas dan tiada beban. Itulah sebabnya Ryan merasa nyaman dan betah berkawan dengan gengnya tersebut.

Meskipun jalanan yang panas akan terik matahari yang menyebabkan semakin menghitamnya kulit sawo matang tubuh Ryan, tak menjadikan problem dalam hidupnya. Baginya hidup lepas dari keributan orangtua yang setiap hari bertengkar membuatnya enjoy dan senang dalam menikmati hari-harinya.

Sebulan ikut bergabung dijalanan. Keberadaan Ryan dengan komplotan anak nakal itu diketahui oleh kedua orangtuanya. Fadly yang beristrikan Aulia merupakan nama kedua orangtua Ryan. Bukan suatu penyesalan yang muncul dalam benak mereka, justru dengan mengetahui keberadaan anaknya tersebut menjadikan semakin rusuh dalam rumah tangganya. Saling menyalahkan satu sama lain sekaligus membuat emosi keduanya semakin memuncak.

“Kalau sudah seperti ini siapa yang salah? bagaimana mungkin anak semata wayang tak mau hidup bersama kita lagi?” hisak tangis sekaligus shock Aulia ibu Ryan mendengar anaknya jarang pulang. Fadly termenung seperti menyesali tingkah laku setiap harinya yang sering menyebabkan pertengkaran. Kisah riuh kedua orangtuanya pun sampai ditelingan Ryan. Tak terduga hati Ryan yang polospun tiba-tiba merasakan ingin pulang.

Hari mulai mendung, langit mulai menandakan akan tiba waktunya petang. Tepat disaat adzan maghrib berkumandang Ryan mengetuk pintu dengan berpakaikan kumuh seperti orang yang tak mandi lima hari, terlihat lusut kaos pendek berwarna hitam yang Ryan pakai, serta celana jeans panjang yang sobek dilututnya pun menjadi ciri khas terbaru Ryan saat itu.

“Assalamualaikum” begitu ucapan Ryan saat mendekat pintu depan rumahnya. “Wa’alaikummussalam, iya sebentar.” Dibukakanlah pintu oleh seorang wanita cantik bertubuhkan langsing bercucuran air mata berlinang dipipi manisnya. Aulia ibu Ryan terhisak bahagia melihat kembali anak semata wayangnya pulang kerumah. Digandenglah Ryan masuk kedalam rumah yang agak luas dan sepi itu. Disuruh duduklah Ryan diruang keluarga dengan disuguhkan makanan kesukaannya. “Ayah mana bu?” Tanya Ryan dengan ibunya. “Ayahmu lagi pergi nak, palingan juga sebentar sebentar lagi pulang” Jawab Aulia Ibu Ryan dengan wajah bahagia. Beberapa menit kemudian Fadly ayah Ryanpun pulang. Perjumpaan malampun berjalan dengan harmonis. Ryanpun merasa senang dengan melihat senyum kedua orangtuanya terpancar kembali.

Burung berkicau tertanda hari mulai pagi. Ryan mengira kebiasaan riuh yang membuat kepala seakan terasa pecah itu sudah tak lagi ia dengar. Ternyata salah dugaan Ryan, hati Ryanpun semakin memanas dan membenci kedua orangtuanya. Semenjak kejadian itulah Ryan tak pernah lagi pulang kerumah. Mendengar cerita Ryan yang begitu menyedihkan membuat hati Rania semakin mantap untuk membuat hati Ryan luluh kembali dan pulang ke orangtuanya.

Wanita muslim bertubuh mungil itu, bertekad dalam hatinya untuk mewujudkan mimpi barunya dengan meluruskan iman para anak jalanan tersebut terutama teruntuk Ryan si pria yang dikepoinya selama ini. Bukan cara yang mudah ia terapkan begitu saja.

Dengan sabar serta keikhlasan perlahan Rania membiasakan berbicara dengan menyelipkan kalimat-kalimat islami yang tak biasa mereka bicarakan. Rania berkata padanya, bahwa hidup itu bagaikan jalanan yang bising penuh dengan asap kendaraan, bukan suatu keadaan yang pasrah menelan dengan mentah polusi yang ada di bumi pertiwi, melainkan sebuah perjuangan untuk mensucikan diri dengan kembali kepada sang Rabb Allah Subhannahu Wa Ta’ala kejalan yang diridhoinya. Berbagai carapun telah Rania lakukan untuk menarik simpati mereka akan indahnya Islam. Meskipun hanya sebatas perbuatan kecil yang Rania lakukan, tetapi dalam diri Rania berharap besar semua yang ia lakukan membuat Ryan dan kawan-kawannya sadar akan jalan yang benar, serta yang tak kalah penting dapat menjadikan Ryan mau kembali keorangtuanya.

Suatu hari, suasana gubug kecil tempat berkumpulnya Ryan dan kawannya dipergoki oleh sekumpulan SATPOL PP yang siap menangkap dan menghancurkan hunian anak jalanan yang dirasa meresahkan masyarakat kota. Seluruh kawan Ryan melihat kedatangannya langsung lari berhamburan melepaskan diri dari tangkapan SATPOL PP. Dari kejadian itulah Ryan merasa hidupnya terombang-ambing tidak jelas. Rania wanita muslimah mendengar kejadian tersebut langsung mencari Ryan. Ditemuilah disebuah empang jembatan merah tempat pertama kali Rania berjumpa dengan Ryan. Wajah Ryan terlihat sedih, Rania perlahan berbicara dengannya. “Istighfar Ryan, jalanan bukanlah tempat yang aman. Kembalilah kejalan yang benar. Pulanglah kerumah, orangtuamu pasti merindukanmu?” Dengan suara lirih Rania menenangkan hatinya. Ryanpun mulai luluh dan menyadari ketidakjelasan dalam hidupnya. Melihat begitu perhatian sikap Rania terhadap dirinya, menyadarkan bahwa hidup memang tak sepatutnya menuruti emosi saja. Meskipun dirinya sedang diterpa angin yang menyebabkan sarang burung rusak dan memisahkan anak dengan induknya, namun tak seharusnya anak melupakan serta meninggalkan kedua orangtuanya.

Tak menunggu lama Ryanpun berterimakasih terhadap Rania yang telah berusaha menyadarkan selama ini, serta langsung pamit meninggalkan Rania dan bersiap untuk bergegas pulang menjumpai kedua orangtuanya sore itu juga. Dan Ryanpun sudah mulai menjalankan perintah Allah seperti nasehat Rania yang telah ia abaikan waktu itu. Ryan mulai rajin sholat, serta yang membuat hati Rania tak kalah senang seorang Ryan sudah memantapkan hatinya untuk tidak lagi bergabung dengan anak jalanan yang membuatnya bebas tersebut.

Tak sepatutnya kita membenci sesama muslim. Bisa jadi ia jauh dari Allah Subhannahu Wa Ta’ala karena butuh pertolongan dari saudaranya.

Advertisements

Dikala Sendiri

Termenung dikeheningan malam

Terkadang dalam kesendirian serta dalam heningnya malam seringkali menyiksaku dengan munculnya perasaan-perasaan yang tidak karuan. Menahan rasa pedih serta sedih yang mendalam meratapi perjalanan hidup yang kian membendung dalam hati. Lara serta pahitnya yang seakan-akan aku paksa tuk menelannya sekejap mungkin. Meski hati tak kuasa menahan setetes air mata, meski hati tak terima, apalah dayaku yang hanya seorang hamba yang lemah dan tak berdaya.

Ingin rasanya aku luapkan dalam tawa lepasku. Meski itu terkesan munafik dengan mengabaikan semua yang ada. Kembali bercerita dalam diam dengan segala keresahan jiwa. Menghembuskan nafas seakan obat paling mujarab untuk menghilangkan rasa perih yang mendalam. Terkadang penyesalan itu muncul disaat-saat termenung dalam sepi. Kenapa begini kenapa tidak demikian? Jalan takdir itu seakan harus aku terima dengan lapang dada, iya… memang itu sudah semestinya aku terima dengan ikhlas, apapun itu. Terlalu sering berkeluh kesah justru semakin membuatku terpuruk.

New blank page disinilah aku luapkan semua yang ada dalam hatiku, semua yang aku rasakan. Kurang bermanfaat rasanya jika hanya aku tulis aku pendam dan aku simpan diam-diam. Huft… lagi-lagi sebatas inilah yang aku mampu.

Dikala sendiri itu, selalu saja aku teringat tentang beliau. Nasehat beliau. Iya ibuku tercinta yang pertama aku ingat… dalam hati selalu berkata tahan Rania tahan, ingat janji kamu awal sebelum kamu terjun dalam pilihan yang kamu tuju. Sudah seharusnya kamu lawan rasa sedih itu. Tunjukkan bahwa suatu saat kamu bisa menjadi lebih baik. tunjukkan bahwa kamu bisa mewujudkan cita-cita ibu kamu. Masih ingat kan waktu ta’aruf di tanah lapang depan gedung ma’had kampus yang kamu pilih untuk melanjutkan study kamu. Iya ingat… pernah aku tulis didalam secarik kertas buku catatan pemberian kampus dalam satu paket waktu itu. Ada sedikit kata yang kamu tulis itu tujuan kamu. Tangisan waktu itu adalah tangisan bangga karna kamu dapat diterima dan masuk dengan mudah, wajah sumpringah serta dukungan yang amat menyenangkan.

Seiring berjalannya waktu dukungan itu kian memudar. Sekarang sudah jarang lagi aku temukan senyuman diraut mukanya. Jangankan tersenyum disaat akun pulang dari kampuspun tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Iya memang jarang sekali kaka iparku berbuat begitu. Lagi-lagi menahan dalam hati, berpikir apakah sudah aku cukupkan saja sampai  sini, tapi masa iya baru setengah berjalan sudah menyerah. Masa iya aku segitu pengecutnya melawan semua kecut raut muka itu. Tidak Rania tidak, kamu tidak boleh sepasrah itu, kamu harus semangat harus berjuang. Tahan semua kesedihan dan ketidak perhatian itu. Kamu harus semangat.

Seperti halnya penyemangatmu kala itu “Langit boleh saja mendung, gelap bahkan menangis. Tapi ingat hati harus tetap teguh, tangguh serta kuat dalam keadaan apapun. Suasana hati tak boleh sama dengan keadaan cuaca. Lantas… apakah hati kamu akan mengikuti keadaan langit yang gelap dan menangis meluruhkan air mata secara tiba-tiba?”

Dalam Jarak Ku Merindu

merindu di kejauhan
jarak penyebab kerinduan
Hamparan pulau membendung sekedip
mata ku memandang
Senyum manis yang telah kau tanam
jauh dalam tatapan
Beribu jarak menghalang dalam
perjumpaan
Kota yang kau singgah kini jauh dari jangkauan
sayang... 
Cinta kita kini tatkala terpisah sekat tuk mendekat
Gemuruh rindu seraya membanjiri hati perasaanku
Ku rindu
semilir angin membelai lembut dedaunan yang rimbun
Seperti
engkau membelai mesra tubuhku dikala itu
Pancaran
cahaya cintamu tetap abadi dalam relung hatiku
Bagaikan
lilin kecil bersinar tenang mengikuti terpaan angin
Redup
tak bercahaya hingga ajal menghadang

Lampuku Retak

Kisah silam hanya tinggal kenangan

Pancaran cahaya bersinar terang menyilaukan relung hatiku terdalam. Benih-benih cinta yang kau tanamkan berpaut dalam satu ikatan yang sempurna. Jalinan kasih terpecah tak terduga, sungguh pertikaian merusak puing-puing rasa terdalam. “Kasih? kenapa hubungan yang kita jalin retak begitu saja.”“Akankah menyatu kembali?”Hmm… sebuah dedikasi yang tak mungkin lagi terikat dalam satu rasa. Ucapan yang kau latunkan lagi tak mungkin merasuk dalam getaran hatiku.

Rasa sakit hati ini  selalu mendera dalam jiwa dan raga. Sungguh Aku tak menyangka seseorang yang selalu ku puja kini mengkhianati kepercayaanku. Dulu dimana saat kita sering bersama, suka maupun duka.. kau selalu memberikanku kenyaman yang tidak pernah aku temui dibelahan dunia manapun. Tutur katamu selalu menenangkan jiwa. Aku bahagia akan masa dulu yang pernah kita alami bersama. Mengapa? Iya mengapa semua itu hanya tinggal kenangan.

Dulu kau pernah berjanji bahwasannya suatu saat nanti kita kan menciptakan singgah sana dunia dimana hanya ada kita berdua. Dimana kita kan hidup sesuai dengan rencana kita. Iya semua itu indah. Sungguh indah. Kita bagaikan sutradara dan orang lain hanyalah aktor dan aktrisnya.Ucapan dan tutur kata yang engkau utarakan tak sesuai dengan realita kehidupan. Drama apakah yang engkau ciptakan? Aku benci dengan semua ini. Lukisan cinta kita dengan mudahnya engkau hancurkan. Mengapa harus ada sampah diantara kita. Mengapa harus bersama jika akhirnya kan seperti ini.

Kasih… aku rindu masa-masa indah bersamamu, cubitan mesra itu masih membekas dipipiku. Canda tawamu terngiang dalam ingatanku. Kisah silam bersamamu kini hanya tinggal kenangan.